"PERSEMBAHAN YANG BENAR"
(Mazmur 50:7-15)
Billy Graham, penginjil
paling terkenal abad ini, adalah sahabat dekatdari 10 presiden As terakhir,
mulai dari Harry Trutman samapai Bill Clinton.
Dalam khotbahnya yang bertema Partner with God, antara lain berkata.
“salah satu dosa paling besar dari orang Amerika saat ini adalah, bahwa kita
merampok dari Allah apa-apa yang sepenuhnya milik hak Dia. Sengaja tidak
memberikan persepuluhan kita berarti “ngemplang”.
Padahal dengan
memberikan persepuluhan kita, kita sebenarnya belum memberikan apa apa kepada
Tuhan. Mengapa? Karena memang sudah hak Tuhan
sepenuhnya . Kita Cuma ‘bayar utang’.”
Billy graham benar!.
Memberi persembahan kepada Tuhan itu pada dasarnya sama seperti “membayar
utang”. Kewajiban! Kita bayar!, tidak
membuat kita hebat. Tetapi tidak kita
bayar, kita cacat.
Ini salah satu konsep
dasar tentang persembahan yang mesti kita luruskan. Banyak orang berpikir, bahwa memberi
persembahan kepada Tuhan itu seperti memberi “piutang” kepada Tuhan. Semakin besar persembahan kita kepasa Tuhan
semakin besar utang Tuhan kepada kita.
Lalu pada waktu kita membutuhkannya, O gampang, kita tinggal
menagihnya. Dan Tuhan akan membayar
kembali hutang-Nya kepada kita, plus bunganya.
Dan bunganya itu ratusan persen.
Bayangkan kita jadi “tukang kredir”
malah tepatnya rentenir. Sebab
bunga yang kita kenakan kepada Tuhan itu nauzibilah tingginya.
Salah
kalau
kita memotivasi jemaat memberikan
persembahan dengan terus menerus mengulang Maleakhi
3:10 adalah,
“Ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak
membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai
berkelimpahan.”
ATAU
2
Korintus 9:6 berbunyi
“Orang yang menabur sedikit
akan menuai sedikit, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga.”
Bukan
ayatnya yang salah, tetapi cara kita memahaminya dan menggunakan ayat ayat itu yang salah!.
Pembacaan kita hari
ini, MAZMUR 50,
amat jelas, amat tegas, amat tandas, mau meluruskan pandangan-pandangan yang
salah itu!.
Ayat 7. Setiap kali kita hendak membawa
persembahan kita, ingatlah, untuk siapa dan kepada siapa kita membawa
persembahan itu! “Akulah Allah,
Allahmu!” Akulah Allah, bukan rekan bisnismu!
Akulah Allah bukan bangkirmu!
Ayat 8 Aku, Allahmu! Aku bisa murka
kepadamu. Bisa tidak menyukaimu. Bisa menghukummu. Tetapi ingat aku tidak mengukurmu, tidak
menilaimu, tidak menghakimimu semata mata berdasar korban bakaranmu atau jumlah
persembahanmu! Jangan pikir Aku gampang diiming imingi, dirayu, disuap dengan
rupiahmu!. Jangan pikir nanti ada kelas
kelas. Siapa bayar lebih mahal bisa masuk
kelas eksekutive, yang kurang mahal masuk kelas ekonomi! "Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum atau
memberkati engkau! Mengapa?
Ayat 9-13.
Tuhan tidak perlu persembahan-persembahan kita! Ia Mahakaya! “punya-Ku lah dunia dan segala
isinya!”, begitu dikatakan dalam ayat 12b. Bukan kita yang memberi kepada
Tuhan. Tetapi Tuhan lah yang memberi kepada
kita!
Namun demikian, toh Ayat 14 mengatakan, persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah, dan bayarlah
nazarmu kepada Yang Maha Tinggi!” artinya walaupun ia tidak membutuhkan
persembahan kita, tetapi Allah mengharapkannya.
Seperti seorang yang mengharapkan kado atau tanda mata dari
kekasihnya. Jangan menghadap Tuhan
dengan tangan hampa!, demikian disebutkan dalam kitab Ulangan. Bawalah persembahanmu sebagai korban! Bawalah persembahanmu sebagai pembayar Nazar:
maksudnya, bukan sebagai hadiah atau sebagai oleh-oleh untuk merayu Dia. Bukan sebagai uang semir untuk menyuap
Dia. Bukan sebagai nasabah yang mau
mendepositokan uangnya karena mengharapkan bungayang tinggi!.
Akan tetapi, “bawalah persembahanmu” sebagai korban! Apa maksudnya? Kita mengetahui umat Israel selalu membawa
korban sebagai bagian dari ibadah mereka kepada Allah. Korban itu
berupa binatang. Binatangnya bisa
bermacam-macam, tergantuung kemampuan masing-masing: lembu-domba
merpati-pipit-doa!. Tetapi “dan ini yang paling penting” binatang apapun harus yang terbaik ; tidak bercacat.
Kita diminta membawa persembahan sesuai dengan kemampuan kita {“yang perlu diingat bukan semampunya
bukan semaunya ). Tetapi apa pun dan
berapa pun yang anda bawa, ia harus yang terbaik.
Dalam Ibrani 10:4 kita
membaca kalimat sebagai berikut
“sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau
darah domba jantan menghapuskan dosa.” Artinya, bukan korban itu sendiri yang
penting!. Pembacaan kita mengatakan,
Allah itu bukan Allah yang rakus dan lapar terus menerus, hingga senang sekali
kalau dibawain barbeque!. Kalau kita membawa persembahan kepada Tuhan,
bukan uang nya yang penting.
Jadi apanya yang
penting? Bukan “daging korbannya”,
melainkan apa yang dilambangkan oleh korban itu:
Bahwa ada yang bersedia
dikorbankan, disembelih, dibunuh, mati untuk kita. Setiap kita bawa persembahan kita, ingat
Yesus Kristus! Ia bersedia memberikan diri Nya sendiri sebagai “korban”. Sebelum kita bisa memberi apa-apa, Ia sudah
terlebih dulu memberi. Berapa banyak pun
yang kita berikan, tetapi tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang telah
ia berikan untuk kita. Karena itu, kita
memberikan persembahan kita dengan penuh kerendahan hati.
Kalau yang dikehendaki
oleh Tuhan bukanlah daging bakar, lalu apa?
Persembahan diri
kita!. Roma 12:1 berkata
“karena itu, saudara-saudara, demi
kemurahan, Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu
sebagai persembahan yang hidup kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati!”
Persembahan kita akan
menyenangkan hati Allah apabila didasari oleh dorongan yang kuat dan kerinduan
yang dalam untuk memberi dan memberi, karena kasih yang membakar hati
kita. Kalau kasih yang membakar hati
kita, percayalah, tak ada persembahan yang terlalu besar sehingga kita “bangga”
atau “cukup” tak ada pula persembahan yang “terlalu kecil” sehingga merasa “minder”.
Pernah tidak anda
mengalami kesulitan karena diundang seorang tokoh yang menikahkan anaknya? Bingung mau membawa kado apa? Ini, ah terlalu kecil buat dia.itu, ah
terlalu mahal buat saya. Mengapa timbul
kebingungan ini? Karena tidak didasarkan kasih
Pertanyaan terakhir;
kalau yang penting itu hati, apakah itu berarti jumlah tidak penting? O tunggu
dulu jawabannya adalah jumlah tidak
dengan sendirinya mencerminkan hati.
Tetapi hati yang bersyukur selalu
tercermin dalam “jumlah”!. Ingat cerita Narwastu?.
Semoga setiap hari kita memberikan yang
terbaik kepada Tuhan berdasarkan Hati kita .
hati yang mengasihi Tuhan Yesus Kristus dengan kesungguhan yang besar!
Sumber; buku “Dengan mata menatap ke Yesus” karya Eka
Darmaputera (penerbit: PT BPK GUNUNG MULIA)
(https://friendofgodministry.wordpress.com/persembahan-yang-benar/
Hidup ini singkat: MAKNAI HIDUP ANDA DENGAN MELAKUKAN SEGALA SESUATU YANG BERGUNA
Saat seseorang memaknai hidupnya dan senantiasa BERFUNGSI MAKSIMAL, ia akan menjadi orang yang BERGAIRAH dan hidupnya pun menjadi semangat
Ia tak akan menyerah oleh keadaan yang tak mendukung.
ia tidak mau dikalahkan oleh masalahnya, tetapi berani menghadapinya.
Hidup jadi seperti tanpa masalah, walaupun sebenarnya ada.
Ini bisa terjadi saat kita hidup dengan TUJUAN DAN ARAH YANG JELAS
John C. Maxwell:
"Problems never stop, but people can stop problems"
Tanganilah keluhan dengan segera!!! Itulah ciri pemimpin yang peduli.
1 Yohanes 4:17:
"Dalam hal kasih Allah sempurna di dalam kita,
yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman,
karena sama seperti Dia,
kita juga ada di dalam dunia ini"
Mottos for success:
"It is often easier to do a good job than to explain why you didn't"
Ketika metabolisme tubuh melambat,
apapun yang kita makan akan lebih banyak diubah tubuh menjadi simpanan lemak
#DietFacts (Santoso, Indonesia Sports Nutritionist)
Have a good day!